Selasa, 25 Oktober 2016

TUGAS
AGRIBISNIS TANAMAN HIAS DAN OBAT-OBATAN

PENGARUH PUPUK KOMPOS TERHADAP TANAMAN RIMPANG
JAHE (Zingiber Officinale)


OLEH
JULIAN HANAFI MARPAUNG
NIRM. 01.13.13.0367










JURUSAN PENYULUHAN PERTANIAN
SEKOLAH TINGGI PENYULUHAN PERTANIAN (STPP) MEDAN
MEDAN
2016
A.      Tanah
Tanah merupakan media tumbuh dan penyedia unsur hara bagi tanaman. Ketersediaan hara dalam tanah merupakan faktor penting yang mendukung pertumbuhan tanaman, bersama dengan karakteristik fisika dan biologi tanah. Kemampuan tanah menyediakan unsur hara, ditentukan oleh kandungan bahan organik tanah (BOT) dan kelengasan tanah. Tanah-tanah entisol biasanya bertekstur pasir atau pasir berlempung dan kandungan BOT-nya rendah, sehingga kemampuannya menyimpan air tersedia juga rendah. Struktur, tekstur, dan ruang pori tanah juga mempengaruhi daya simpan air-tersedia.

B.       Pupuk Organik (Kompos)
Pupuk organik adalah nama kolektif untuk semua jenis bahan organik asal tanaman dan hewan yang dapat dirombak menjadi hara tersedia bagi tanaman. Dalam Permentan No.2/Pert/Hk.060/2/2006, tentang pupuk organik dan pembenah tanah, dikemukakan bahwa pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Definisi tersebut menunjukkan bahwa pupuk organik lebih ditujukan kepada kandungan C-organik atau bahan organik daripada kadar haranya; nilai C-organik itulah yang menjadi pembeda dengan pupuk anorganik. Bila C-organik rendah dan tidak masuk dalam ketentuan pupuk organik maka diklasifikasikan sebagai pembenah tanah organik. Pembenah tanah atau soil ameliorant menurut SK Mentan adalah bahan-bahan sintesis atau alami, organik atau mineral. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota. Kompos merupakan produk pembusukan dari limbah tanaman dan hewan hasil perombakan oleh fungi, aktinomiset, dan cacing tanah. Pupuk hijau merupakan keseluruhan tanaman hijau maupun hanya bagian dari tanaman seperti sisa batang dan tunggul akar setelah bagian atas tanaman yang hijau digunakan sebagai pakan ternak. Sebagai contoh pupuk hijau ini adalah sisa–sisa tanaman, kacang-kacangan, dan tanaman paku air Azolla. Pupuk kandang merupakan kotoran ternak. Limbah ternak merupakan limbah dari rumah potong berupa tulang-tulang, darah, dan sebagainya. Limbah industri yang menggunakan bahan pertanian merupakan limbah berasal dari limbah pabrik gula, limbah pengolahan kelapa sawit, penggilingan padi, limbah bumbu masak, dan sebagainya. Limbah kota yang dapat menjadi kompos berupa sampah kota yang berasal dari tanaman, setelah dipisah dari bahan-bahan yang tidak dapat dirombak misalnya plastik, kertas, botol, dan kertas.
Istilah pupuk hayati digunakan sebagai nama kolektif untuk semua kelompok fungsional mikroba tanah yang dapat berfungsi sebagai penyedia hara dalam tanah, sehingga dapat tersedia bagi tanaman. Pemakaian istilah ini relatif baru dibandingkan dengan saat penggunaan salah satu jenis pupuk hayati komersial pertama di dunia yaitu inokulan Rhizobium yang sudah lebih dari 100 tahun yang lalu. Pupuk hayati dalam buku ini dapat didefinisikan sebagai inokulan berbahan aktif organisme hidup yang berfungsi untuk menambat hara tertentu atau memfasilitasi tersedianya hara dalam tanah bagi tanaman. Memfasilitasi tersedianya hara ini dapat berlangsung melalui peningkatan akses tanaman terhadap hara misalnya oleh cendawan mikoriza arbuskuler, pelarutan oleh mikroba pelarut fosfat, maupun perombakan oleh fungi, aktinomiset atau cacing tanah. Penyediaan hara ini berlangsung melalui hubungan simbiotis atau nonsimbiotis. Secara simbiosis berlangsung dengan kelompok tanaman tertentu atau dengan kebanyakan tanaman, sedangkan nonsimbiotis berlangsung melalui penyerapan hara hasil pelarutan oleh kelompok mikroba pelarut fosfat, dan hasil perombakan bahan organik oleh kelompok organisme perombak. Kelompok mikroba simbiotis ini terutama meliputi bakteri bintil akar dan cendawan mikoriza. Penambatan N2 secara simbiotis dengan tanaman kehutanan yang bukan legum oleh aktinomisetes genus Frankia di luar cakupan buku ini. Kelompok cendawan mikoriza yang tergolong ektomikoriza juga di luar cakupan baku ini, karena kelompok ini hanya bersimbiosis dengan berbagai tanaman kehutanan. Kelompok endomikoriza yang akan dicakup dalam buku ini juga hanya cendawan mikoriza vesikuler-abuskuler, yang banyak mengkolonisasi tanaman-tanaman pertanian.
Kelompok organisme perombak bahan organik tidak hanya mikrofauna tetapi ada juga makrofauna (cacing tanah). Pembuatan vermikompos melibatkan cacing tanah untuk merombak berbagai limbah seperti limbah pertanian, limbah dapur, limbah pasar, limbah ternak, dan limbah industri yang berbasis pertanian. Kelompok organisme perombak ini dikelompokkan sebagai bioaktivator perombak bahan organik.

C.       Pengaruh Pemupukan pada Kesuburan Tanah
Penggunaan pupuk secara setimbang akan meningkatkan produksi tanaman. Peningkatan produksi juga meningkatkan jumlah sisa – sisa tanaman (daun, batang, akar) yang tertinggal atau yang dapat dikembalikan ke dalam tanah. Kesetimbangan unsur hara tentang pengembalian 80% sisa – sisa tanaman dapat memperkaya cadangan unsur hara, sehingga mengurangi kebutuhan hara yang harus ditambahkan. Perlakuan ini jika dilakukan secara terus menerus akan mengurangi kebutuhan hara sehingga akan dicapai kondisi hara yang cukup untuk pertumbuhan dan produksi tanaman tinggi tanpa ada masukan pupuk dari luar. Pengembalian sisa – sisa tanaman ini akan memperbaiki sifat – sifat kimia dan fisika tanah, meningkatkan kemampuan menyimpan air, meningkatkan kemudahan pengolahan dan kesuburan tanah. Alasan utama sehingga tanah bisa sangat keras adalah penggunaan pupuk anorganik tunggal dalam jangka waktu lama. Sebagai contoh, residu sulfat dan karbonat yang terkandung dalam pupuk dan tanah bisa bereaksi dengan kalsium tanah yang menyebabkan sulitnya pengolahan tanah. Penggunaan pupuk yang setimbang menghindari kekerasan tanah sehingga meningkatkan pertumbuhan tanaman dan porositas tanah serta kadar air tersedia tanah

D.      Jahe
Tanaman jahe (Zingeber officinale) diklasifikasi sebagai berikut : Divisi : Spermatophyta. Sub-divisi   : Angiospermae. Kelas : Monocotyledoneae. Ordo : Zingiberales. Famili : Zingiberaceae. Genus : Zingiber. Species  : Zingiber officinale ( BBPP .2009)

Tanaman jahe digolongkan batang semu, tinggi 30 cm sampai 1 m rimpang bila dipotong berwarna kuning atau jingga. Daun jahe sempit, panjang 15 – 23 mm, lebar 8 – 15 mm ; tangkai daun berbulu, panjang 2 – 4 mm ; bentuk lidah daun memanjang, panjang 7,5 – 10 mm, dan tidak berbulu; seludang agak berbulu. Bunga jahe berupa malai tersembul dipermukaan tanah, berbentuk tongkat atau bundar telur yang sempit, 2,75 – 3 kali lebarnya, sangat tajam ; panjang malai 3,5 – 5 cm, lebar 1,5 – 1,75 cm ; gagang bunga hampir tidak berbulu, panjang 25 cm, rahis berbulu jarang ; sisik pada gagang terdapat 5 – 7 buah, berbentuk lanset, letaknya berdekatan atau rapat, hampir tidak berbulu, panjang sisik 3 – 5 cm; daun pelindung berbentuk bundar telur terbalik, bundar pada ujungnya, tidak berbulu, berwarna hijau cerah, panjang 2,5 cm, lebar 1 – 1,75 cm ; mahkota bunga berbentuk tabung 2 – 2,5 cm, helainya agak sempit, berbentuk tajam, berwarna kuning kehijauan, panjang 1,5 – 2,5 mm, lebar 3 – 3,5 mm, bibir berwarna ungu, gelap, berbintik-bintik berwarna putih kekuningan, panjang 12 – 15 mm ; kepala sari berwarna ungu, panjang 9 mm ; tangkai putik 2 (BBPP .2009).
Tanaman jahe yang menghendaki rerata temperatur harian sekitar 28 oC dan temperatur tahunan berkisar antara 20 – 35 oC, yang optimum antara 25 sampai 30 oC. Curah hujan berkisar antara 1000 sampai 4000 mm/tahun yang optimum antara 2.500 – 3.500 mm/tahun. Kelembaban udara pada masa pematangan harus kurang dari 75 persen. Tanah yang dikehendaki memiliki kedalaman tanah minimum 30 cm dengan tekstur agak kasar sampai halus, struktur tanah berbutir (granular), konsistensi gembur (lembab), permiabilitas sedang, drainase sedang sampai baik, tingkat kesuburan cukup, kandungan humus sedang tinggi. Reaksi tanah (pH) berkisar antara 4,0 – 7,5 dengan pH optimum antara 5,0 – 7,0, tanaman Jahe menghendaki tanah yang subur, gembur, banyak mengandung humus dan berdrainase baik. Tanah Latosol merah coklat dan Andosol umumnya lebih lebih tepat. Tanaman Jahe merupakan tanaman yang menghendaki cahaya matahari karena selama pertumbuhannya membentuk rumpun ( Rahmat, H. 2001).



E.       Pengaruh Pemberian Pupuk Organik (Kompos) pada Tanaman Jahe
Adapun beberapa pendapat tentang pengaruh pupuk kompos pada tanaman jahe yang dapat dihimpun adalah sebagai berikut:
1.        Dari hasil analisis statistik diketahui bahwa perlakuan pupuk organik berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah daun 3 Bulan Setelah Tanam
2.        Pemberian pupuk kandang ayam meningkatkan tinggi tanaman minggu ke 16 dan berat basah rimpang. Berat basah rimpang dengan pupuk kandang ayam 28,18% lebih tinggi dari berat basah rimpang dengan pupuk kandang sapi. Pemberian berbagai dosis pupuk kandang ayam dan sapi yang terbaik yaitu dengan pemberian dosis pupuk kandang 5 ton/ha yaitu pada tinggi tanaman minggu ke-16, jumlah daun, jumlah anakan dengan persentase kenaikan 96,71%, dan berat basah rimpang sebesar 163,15%. Penelitian ini menyarankan bahwa sebaiknya perlu dilakukan penambahan dosis pupuk kandang ayam dan sapi untuk mendapatkan hasil yang optimum pada tanaman jahe dan penelitian ini juga perlu dilanjutkan untuk jenis tanaman lainnya.
3.        Pemberian pupuk organik menambah N total tanah seta meningkatkan pertumbuhan dan hasil jahe. Pertumbuhan dan hasil ini meningkat dengan meningkatnya takaran pupuk organik sampai 30 ton/ha.
4.        Pemberian Tandan Kosong Sawit (TKS) pada pertanaman jahe gajah sampai taraf dosis 30 ton per hektar dapat memperbanyak jumlah tunas meskipun belum dapat mempercepat umur bertunas dan meningkatkan tinggi tanaman, jumlah helai daun serta bobot rimpang.
Penggunaan pupuk organik cair Rite Grow-1 pada tanaman jahe gajah sampai taraf konsentrasi 3 cc per liter air juga dapat memperbanyak jumlah tunas meskipun belum dapat mempercepat umur bertunas dan meningkatkan tinggi tanaman, jumlah helai daun serta bobot rimpang.
Pemberian Tandan Kosong Sawit (TKS) secara bersamaan dengan pupuk organik cair Rite Grow-1 tidak menghasilkan pengaruh interaksi.
5.        Hasil percobaan pada perlakuan media berpengaruh tidak nyata pada semua parameter, hal ini diduga karena selain pupuk kandang membutuhkan waktu yang cukup lama (lambat) untuk bisa terdekomposisi, menurut Wiroatmodjo.(1990) kandungan unsur hara mikro yang terdapat pada pupuk kandang tidak cukup tinggi sehingga perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh nyata. (Januwati,dkk. 1992). Perlu adanya manajemen lingkungan tumbuh yang perlu diperhatikan untuk dapat memacu pertumbuhan vegetative tersebut sehingga diperoleh produksi dan mutu simplisia yang baik diantaranya adalah melalui modifikasi kesuburan tanah lewat aplikasi pemupukan organik yang tepat (baik taraf maupun jenisnya).

























Daftar Pustaka

Zulkarnain, Maulana Dkk. 2013. Pengaruh Kompos, Pupuk Kandang, dan Custom-Bio terhadap Sifat Tanah , Pertumbuhan dan Hasil Tebu (Saccharum officinarum L.) pada Entisol di Kebun Ngrangkah-Pawon, Kediri). Universitas Brawijaya. Malang. Indonesian Green Technology Journal.Vol. 2 No. 1, 2013.

Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2006. Pupuk Organik Dan Pupuk Hayati. Bogor.

Sumihar, Susana Tabah Trina. 2009. Aplikasi Pupuk Organik Cair Dan Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit (Tks) Pada Budidaya Tanaman Jahe (Zingiber officinale Roscoe) Secara Organik. Universitas HKBP Nomensen. Medan.

Hadiyanto, Dwi Kusma. 2011. Pengaruh Komposisi Media Organik Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tiga Varietas Jahe (Zingiber officinale Rosc). Universitas Jember.

Latifah, E dan Arifin, Z. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Panen Jahe. Jawa Timur.

Yuliana dkk. Aplikasi Pupuk Kandang Sapi Dan Ayam Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Jahe (zingiber officinale rosc.) di Media Gambut. Jurnal Agroteknologi. Vol 5 No. 2, Februari 2015 : 37-42. Pekan Baru.

Lesmana, Yoga. 2008. Respons Pertumbuhan Dan Produksi Jahe (Zingiber officinale Rosc.) Sistem Keranjang Terhadap Pemberian Pupuk Organik Padat Dan Komposisi Media Tanam. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Syamsu Roidah, Ida. 2013. Manfaat penggunaan pupuk organik Untuk kesuburan tanah. Jurnal Universitas Tulungagung BONOROWO Vol. 1.No.1 Tahun 2013.

E, Eva. 2014. Pemanfaatan Pupuk Organik Padat Dan Pupuk Organik Cair Dengan Pengurangan Pupuk Anorganik Terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea Mayz L). Jurnal Saintech Vol. 06 - No.04-Desember 2014. Berastagi.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar