AGRIBISNIS TANAMAN HIAS DAN OBAT-OBATAN
PENGARUH PUPUK KOMPOS TERHADAP
TANAMAN RIMPANG
JAHE (Zingiber Officinale)
OLEH
JULIAN HANAFI MARPAUNG
NIRM. 01.13.13.0367
JURUSAN PENYULUHAN PERTANIAN
SEKOLAH TINGGI PENYULUHAN PERTANIAN
(STPP) MEDAN
MEDAN
2016
A.
Tanah
Tanah merupakan media tumbuh dan penyedia unsur hara
bagi tanaman. Ketersediaan hara dalam tanah merupakan faktor penting yang
mendukung pertumbuhan tanaman, bersama dengan karakteristik fisika dan biologi
tanah. Kemampuan tanah menyediakan unsur hara, ditentukan oleh kandungan bahan
organik tanah (BOT) dan kelengasan tanah. Tanah-tanah entisol biasanya
bertekstur pasir atau pasir berlempung dan kandungan BOT-nya rendah, sehingga
kemampuannya menyimpan air tersedia juga rendah. Struktur, tekstur, dan ruang
pori tanah juga mempengaruhi daya simpan air-tersedia.
B.
Pupuk Organik (Kompos)
Pupuk organik adalah nama kolektif untuk semua jenis
bahan organik asal tanaman dan hewan yang dapat dirombak menjadi hara tersedia
bagi tanaman. Dalam Permentan No.2/Pert/Hk.060/2/2006, tentang pupuk organik
dan pembenah tanah, dikemukakan bahwa pupuk organik adalah pupuk yang sebagian
besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman dan
atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair
yang digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia,
dan biologi tanah. Definisi tersebut menunjukkan bahwa pupuk organik lebih
ditujukan kepada kandungan C-organik atau bahan organik daripada kadar haranya;
nilai C-organik itulah yang menjadi pembeda dengan pupuk anorganik. Bila
C-organik rendah dan tidak masuk dalam ketentuan pupuk organik maka
diklasifikasikan sebagai pembenah tanah organik. Pembenah tanah atau soil
ameliorant menurut SK Mentan adalah bahan-bahan sintesis atau alami, organik
atau mineral. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk
kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut
kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan
limbah kota. Kompos merupakan produk pembusukan dari limbah tanaman dan hewan
hasil perombakan oleh fungi, aktinomiset, dan cacing tanah. Pupuk hijau
merupakan keseluruhan tanaman hijau maupun hanya bagian dari tanaman seperti sisa
batang dan tunggul akar setelah bagian atas tanaman yang hijau digunakan
sebagai pakan ternak. Sebagai contoh pupuk hijau ini adalah sisa–sisa tanaman,
kacang-kacangan, dan tanaman paku air Azolla. Pupuk kandang merupakan
kotoran ternak. Limbah ternak merupakan limbah dari rumah potong berupa
tulang-tulang, darah, dan sebagainya. Limbah industri yang menggunakan bahan
pertanian merupakan limbah berasal dari limbah pabrik gula, limbah pengolahan
kelapa sawit, penggilingan padi, limbah bumbu masak, dan sebagainya. Limbah
kota yang dapat menjadi kompos berupa sampah kota yang berasal dari tanaman,
setelah dipisah dari bahan-bahan yang tidak dapat dirombak misalnya plastik,
kertas, botol, dan kertas.
Istilah pupuk hayati digunakan sebagai nama kolektif
untuk semua kelompok fungsional mikroba tanah yang dapat berfungsi sebagai
penyedia hara dalam tanah, sehingga dapat tersedia bagi tanaman. Pemakaian
istilah ini relatif baru dibandingkan dengan saat penggunaan salah satu jenis
pupuk hayati komersial pertama di dunia yaitu inokulan Rhizobium yang
sudah lebih dari 100 tahun yang lalu. Pupuk hayati dalam buku ini dapat
didefinisikan sebagai inokulan berbahan aktif organisme hidup yang berfungsi
untuk menambat hara tertentu atau memfasilitasi tersedianya hara dalam tanah
bagi tanaman. Memfasilitasi tersedianya hara ini dapat berlangsung melalui
peningkatan akses tanaman terhadap hara misalnya oleh cendawan mikoriza
arbuskuler, pelarutan oleh mikroba pelarut fosfat, maupun perombakan oleh
fungi, aktinomiset atau cacing tanah. Penyediaan hara ini berlangsung melalui
hubungan simbiotis atau nonsimbiotis. Secara simbiosis berlangsung dengan
kelompok tanaman tertentu atau dengan kebanyakan tanaman, sedangkan
nonsimbiotis berlangsung melalui penyerapan hara hasil pelarutan oleh kelompok
mikroba pelarut fosfat, dan hasil perombakan bahan organik oleh kelompok
organisme perombak. Kelompok mikroba simbiotis ini terutama meliputi bakteri
bintil akar dan cendawan mikoriza. Penambatan N2 secara simbiotis
dengan tanaman kehutanan yang bukan legum oleh aktinomisetes genus Frankia
di luar cakupan buku ini. Kelompok cendawan mikoriza yang tergolong
ektomikoriza juga di luar cakupan baku ini, karena kelompok ini hanya
bersimbiosis dengan berbagai tanaman kehutanan. Kelompok endomikoriza yang akan
dicakup dalam buku ini juga hanya cendawan mikoriza vesikuler-abuskuler, yang
banyak mengkolonisasi tanaman-tanaman pertanian.
Kelompok organisme perombak bahan organik tidak
hanya mikrofauna tetapi ada juga makrofauna (cacing tanah). Pembuatan
vermikompos melibatkan cacing tanah untuk merombak berbagai limbah seperti
limbah pertanian, limbah dapur, limbah pasar, limbah ternak, dan limbah
industri yang berbasis pertanian. Kelompok organisme perombak ini dikelompokkan
sebagai bioaktivator perombak bahan organik.
C.
Pengaruh
Pemupukan pada Kesuburan Tanah
Penggunaan pupuk secara setimbang akan meningkatkan
produksi tanaman. Peningkatan produksi juga meningkatkan jumlah sisa – sisa
tanaman (daun, batang, akar) yang tertinggal atau yang dapat dikembalikan ke
dalam tanah. Kesetimbangan unsur hara tentang pengembalian 80% sisa – sisa
tanaman dapat memperkaya cadangan unsur hara, sehingga mengurangi kebutuhan
hara yang harus ditambahkan. Perlakuan ini jika dilakukan secara terus menerus
akan mengurangi kebutuhan hara sehingga akan dicapai kondisi hara yang cukup
untuk pertumbuhan dan produksi tanaman tinggi tanpa ada masukan pupuk dari
luar. Pengembalian sisa – sisa tanaman ini akan memperbaiki sifat – sifat kimia
dan fisika tanah, meningkatkan kemampuan menyimpan air, meningkatkan kemudahan
pengolahan dan kesuburan tanah. Alasan utama sehingga tanah bisa sangat keras
adalah penggunaan pupuk anorganik tunggal dalam jangka waktu lama. Sebagai
contoh, residu sulfat dan karbonat yang terkandung dalam pupuk dan tanah bisa
bereaksi dengan kalsium tanah yang menyebabkan sulitnya pengolahan tanah.
Penggunaan pupuk yang setimbang menghindari kekerasan tanah sehingga
meningkatkan pertumbuhan tanaman dan porositas tanah serta kadar air tersedia
tanah
D.
Jahe
Tanaman jahe (Zingeber officinale)
diklasifikasi sebagai berikut : Divisi : Spermatophyta. Sub-divisi : Angiospermae. Kelas :
Monocotyledoneae. Ordo : Zingiberales.
Famili : Zingiberaceae. Genus : Zingiber. Species : Zingiber officinale ( BBPP
.2009)
Tanaman jahe digolongkan batang semu, tinggi 30 cm
sampai 1 m rimpang bila dipotong berwarna kuning atau jingga. Daun jahe sempit,
panjang 15 – 23 mm, lebar 8 – 15 mm ; tangkai daun berbulu, panjang 2 – 4 mm ;
bentuk lidah daun memanjang, panjang 7,5 – 10 mm, dan tidak berbulu; seludang
agak berbulu. Bunga jahe berupa malai tersembul dipermukaan tanah, berbentuk
tongkat atau bundar telur yang sempit, 2,75 – 3 kali lebarnya, sangat tajam ;
panjang malai 3,5 – 5 cm, lebar 1,5 – 1,75 cm ; gagang bunga hampir tidak
berbulu, panjang 25 cm, rahis berbulu jarang ; sisik pada gagang terdapat 5 – 7
buah, berbentuk lanset, letaknya berdekatan atau rapat, hampir tidak berbulu,
panjang sisik 3 – 5 cm; daun pelindung berbentuk bundar telur terbalik, bundar
pada ujungnya, tidak berbulu, berwarna hijau cerah, panjang 2,5 cm, lebar 1 –
1,75 cm ; mahkota bunga berbentuk tabung 2 – 2,5 cm, helainya agak sempit,
berbentuk tajam, berwarna kuning kehijauan, panjang 1,5 – 2,5 mm, lebar 3 – 3,5
mm, bibir berwarna ungu, gelap, berbintik-bintik berwarna putih kekuningan,
panjang 12 – 15 mm ; kepala sari berwarna ungu, panjang 9 mm ; tangkai putik 2
(BBPP .2009).
Tanaman jahe yang menghendaki rerata temperatur
harian sekitar 28 oC dan temperatur tahunan berkisar antara 20 – 35 oC,
yang optimum antara 25 sampai 30 oC. Curah hujan berkisar antara
1000 sampai 4000 mm/tahun yang optimum antara 2.500 – 3.500 mm/tahun.
Kelembaban udara pada masa pematangan harus kurang dari 75 persen. Tanah yang
dikehendaki memiliki kedalaman tanah minimum 30 cm dengan tekstur agak kasar
sampai halus, struktur tanah berbutir (granular), konsistensi gembur (lembab),
permiabilitas sedang, drainase sedang sampai baik, tingkat kesuburan cukup,
kandungan humus sedang tinggi. Reaksi tanah (pH) berkisar antara 4,0 – 7,5
dengan pH optimum antara 5,0 – 7,0, tanaman Jahe menghendaki tanah yang subur,
gembur, banyak mengandung humus dan berdrainase baik. Tanah Latosol merah
coklat dan Andosol umumnya lebih lebih tepat. Tanaman Jahe merupakan tanaman
yang menghendaki cahaya matahari karena selama pertumbuhannya membentuk rumpun
( Rahmat, H. 2001).
E.
Pengaruh Pemberian Pupuk Organik
(Kompos) pada Tanaman Jahe
Adapun beberapa
pendapat tentang pengaruh pupuk kompos pada tanaman jahe yang dapat dihimpun
adalah sebagai berikut:
1.
Dari hasil analisis
statistik diketahui bahwa perlakuan pupuk organik berpengaruh nyata terhadap
parameter jumlah daun 3 Bulan Setelah Tanam
2.
Pemberian pupuk kandang ayam
meningkatkan tinggi tanaman minggu ke 16 dan berat basah rimpang. Berat basah
rimpang dengan pupuk kandang ayam 28,18% lebih tinggi dari berat basah rimpang
dengan pupuk kandang sapi. Pemberian berbagai dosis pupuk kandang ayam dan sapi
yang terbaik yaitu dengan pemberian dosis pupuk kandang 5 ton/ha yaitu pada
tinggi tanaman minggu ke-16, jumlah daun, jumlah anakan dengan persentase
kenaikan 96,71%, dan berat basah rimpang sebesar 163,15%. Penelitian ini
menyarankan bahwa sebaiknya perlu dilakukan penambahan dosis pupuk kandang ayam
dan sapi untuk mendapatkan hasil yang optimum pada tanaman jahe dan penelitian
ini juga perlu dilanjutkan untuk jenis tanaman lainnya.
3.
Pemberian pupuk organik
menambah N total tanah seta meningkatkan pertumbuhan dan hasil jahe.
Pertumbuhan dan hasil ini meningkat dengan meningkatnya takaran pupuk organik
sampai 30 ton/ha.
4.
Pemberian Tandan Kosong Sawit (TKS) pada
pertanaman jahe gajah sampai taraf dosis 30 ton per hektar dapat memperbanyak
jumlah tunas meskipun belum dapat mempercepat umur bertunas dan meningkatkan
tinggi tanaman, jumlah helai daun serta bobot rimpang.
Penggunaan pupuk
organik cair Rite Grow-1 pada tanaman jahe gajah sampai taraf konsentrasi 3 cc
per liter air juga dapat memperbanyak jumlah tunas meskipun belum dapat
mempercepat umur bertunas dan meningkatkan tinggi tanaman, jumlah helai daun
serta bobot rimpang.
Pemberian Tandan Kosong
Sawit (TKS) secara bersamaan dengan pupuk organik cair Rite Grow-1 tidak
menghasilkan pengaruh interaksi.
5.
Hasil percobaan pada perlakuan media
berpengaruh tidak nyata pada semua parameter, hal ini diduga karena selain
pupuk kandang membutuhkan waktu yang cukup lama (lambat) untuk bisa
terdekomposisi, menurut Wiroatmodjo.(1990) kandungan unsur hara mikro
yang terdapat pada pupuk kandang tidak cukup tinggi sehingga perlakuan yang
diberikan tidak berpengaruh nyata. (Januwati,dkk. 1992). Perlu adanya manajemen
lingkungan tumbuh yang perlu diperhatikan untuk dapat memacu pertumbuhan
vegetative tersebut sehingga diperoleh produksi dan mutu simplisia yang baik
diantaranya adalah melalui modifikasi kesuburan tanah lewat aplikasi pemupukan
organik yang tepat (baik taraf maupun jenisnya).
Daftar Pustaka
Zulkarnain,
Maulana Dkk. 2013. Pengaruh Kompos, Pupuk Kandang, dan Custom-Bio terhadap Sifat Tanah ,
Pertumbuhan dan Hasil Tebu (Saccharum
officinarum L.) pada Entisol di Kebun Ngrangkah-Pawon, Kediri).
Universitas Brawijaya. Malang. Indonesian Green Technology Journal.Vol. 2 No. 1, 2013.
Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2006. Pupuk Organik Dan Pupuk Hayati. Bogor.
Sumihar, Susana Tabah Trina. 2009. Aplikasi Pupuk Organik Cair Dan Kompos
Tandan Kosong Kelapa Sawit (Tks) Pada Budidaya Tanaman Jahe (Zingiber officinale Roscoe) Secara Organik. Universitas HKBP Nomensen. Medan.
Hadiyanto, Dwi Kusma. 2011. Pengaruh Komposisi Media Organik Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tiga
Varietas Jahe (Zingiber officinale Rosc). Universitas Jember.
Latifah, E dan Arifin, Z. Pengaruh
Pemberian Pupuk Organik Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Panen Jahe. Jawa Timur.
Yuliana
dkk. Aplikasi Pupuk Kandang
Sapi Dan Ayam Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Jahe (zingiber officinale rosc.) di Media
Gambut. Jurnal Agroteknologi. Vol 5 No. 2, Februari 2015 :
37-42. Pekan Baru.
Lesmana, Yoga. 2008. Respons Pertumbuhan Dan Produksi Jahe (Zingiber officinale Rosc.)
Sistem Keranjang Terhadap Pemberian Pupuk Organik Padat Dan Komposisi Media
Tanam. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Syamsu Roidah, Ida. 2013.
Manfaat penggunaan pupuk organik
Untuk kesuburan tanah. Jurnal
Universitas Tulungagung BONOROWO Vol. 1.No.1 Tahun 2013.
E, Eva. 2014. Pemanfaatan
Pupuk Organik Padat Dan Pupuk Organik Cair Dengan Pengurangan Pupuk Anorganik
Terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea Mayz L).
Jurnal Saintech Vol. 06 - No.04-Desember 2014. Berastagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar